RSS

Dosen PBSI Unindra Tanamkan Kesantunan Berbahasa untuk Membentuk Karakter Anak di TPQ Hidayat Taufiq

Depok, 5 Juni 2026

Sumber: Dokumen pribadi

Membentuk karakter anak tidak hanya dilakukan melalui pembelajaran akademik, tetapi juga melalui kebiasaan sederhana dalam berkomunikasi. Kesadaran tersebut mendorong tim dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk Sosialisasi Pentingnya Kesantunan Berbahasa dalam Membentuk Karakter Anak di TPQ Hidayat Taufiq.

Kegiatan yang berlangsung di TPQ Hidayat Taufiq, Cisalak Pasar, Cimanggis, Depok, Jawa Barat, tersebut melibatkan 35 anak usia dini, tiga guru, serta 25 orang tua/wali. Kegiatan dilaksanakan selama 70 menit, mulai pukul 08.00 hingga 09.10 WIB. 

Tim PkM yang terdiri atas Lulu’ Ur Rohmah, M.Pd., Jatut Yoga Prameswari, M.Pd., Yona Rantika Tanjung, S.Hum., M.Pd., dan Elisa Anandari, M.Pd. serta 3 mahasiswa memberikan edukasi kepada anak-anak mengenai pentingnya menggunakan bahasa yang santun dalam kehidupan sehari-hari. 

Dalam kegiatan tersebut, anak-anak diperkenalkan pada konsep kesantunan berbahasa melalui bahasa yang sederhana dan contoh yang dekat dengan kehidupan mereka. Materi yang diberikan mencakup penggunaan empat kata ajaib (maaf, tolong, terima kasih, dan permisi), berbicara dengan nada lembut, menghormati orang lain, menggunakan sapaan yang baik, tidak mengejek, meminta izin, serta menunjukkan empati kepada teman. 

Poster Edukatif Empat Kata Ajaib

“Kesantunan berbahasa perlu dibiasakan sejak dini karena bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga mencerminkan karakter dan sikap seseorang,” demikian inti pesan yang disampaikan tim PkM dalam kegiatan tersebut.

Tidak hanya memberikan materi, tim PkM juga mengajak anak-anak untuk mempraktikkan langsung perilaku berbahasa santun melalui metode bermain peran (role playing). Anak-anak diberikan berbagai situasi sederhana yang biasa mereka temui, seperti meminta izin meminjam barang, meminta bantuan, menyampaikan keinginan, serta merespons ketika teman mengalami kesulitan. Metode tersebut dipilih agar anak tidak hanya memahami konsep kesantunan secara teori, tetapi juga mampu mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. 

Kegiatan berlangsung interaktif. Anak-anak terlihat antusias mengikuti penyampaian materi dan praktik yang diberikan. Orang tua atau wali juga dilibatkan dalam diskusi karena pembiasaan bahasa santun tidak berhenti di lingkungan TPQ, tetapi perlu dilanjutkan di rumah dan lingkungan sosial anak.

"Keterlibatan orang tua dinilai penting mengingat anak usia dini berada pada masa perkembangan yang sangat mudah dipengaruhi lingkungan. Contoh, tim abdimas menemukan sejumlah perilaku yang menunjukkan masih perlunya penguatan kesantunan berbahasa, antara lain berebut mainan, merengek ketika menginginkan sesuatu, mengejek teman, menggunakan gestur yang kurang pantas, serta berbicara dengan nada tinggi. Kondisi tersebut juga menjadi salah satu alasan dilaksanakannya kegiatan sosialisasi," ucap Lulu'.

Perubahan pascasosialisasi terlihat dalam perilaku keseharian anak. Anak-anak mulai terbiasa mengucapkan permisi ketika melewati orang lain, meminta izin, menyapa guru, bersalaman, serta lebih mampu berinteraksi dengan teman tanpa mengejek. Orang tua juga mulai berperan dalam mengingatkan anak ketika lupa menggunakan bahasa yang santun. 

Melalui kegiatan tersebut, tim dosen PBSI Unindra menegaskan bahwa pembentukan karakter dapat dimulai dari hal sederhana, yaitu membiasakan anak memilih kata, menggunakan nada bicara yang tepat, menghormati lawan bicara, dan menunjukkan empati.

TPQ Hidayat Taufiq sebagai lembaga pendidikan nonformal berbasis keagamaan diharapkan dapat terus menjadi ruang pembiasaan karakter bagi anak. Sinergi antara guru, orang tua, dan lingkungan menjadi kunci agar pembiasaan berbahasa santun tidak berhenti setelah kegiatan sosialisasi, tetapi menjadi bagian dari perilaku anak dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan PkM ini sekaligus menunjukkan bahwa bahasa dapat menjadi pintu masuk dalam membangun karakter anak sejak usia dini. Dari kata “tolong”, “maaf”, “terima kasih”, dan “permisi”, anak belajar menghargai orang lain, mengendalikan diri, peduli terhadap sesama, serta membangun hubungan sosial yang lebih baik. 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS